Rabu, 25 April 2012

Sejarah Univ. Gunadarma


SEJARAH UNIVERSITAS GUNADARMA

Selain budi atau akhlak, manusia masih memerlukan sejumlah hajat untuk dapat hidup layak di dunia ini. Manusia memerlukan makanan dan minuman, kesehatan dan kebersihan, pakaian dan keindahan, hunian dan pemukiman, transportasi dan komunikasi, serta budi bahasa dan pendidikan. Dari waktu ke waktu, hajat hidup ini memerlukan standar baru sesuai dengan perkembangan zaman. Acuan dari standar ini selalu berpatokan kepada martabat menusia, sehingga dalam batas kemungkinan, manusia terus berusaha untuk mempertinggi martabat kemanusiaan di bumi ini.
Tanpa mengurangi perhatian kita kepada kepentingan berbagai hajat lainnya di dalam hidup ini, disini kita mencoba melihat satu saja di berbagai hajat hidup itu. Kita melihat hajat hidup yang berbentuk pendidikan. Kita menelaah bagaimana pendidikan ini berkaitan dengan perkembangan kehidupan di dalam masyarakat. Dan kita mencatat pula sebagai hal yang mempengaruhi pendidikan beserta standar didalam pendidikan itu.
Standar baru di dalam pendidikan selalu menuntut adanya perubahan di dalam pendidikan. Perubahan itu dapat saja muncul dalam berbagai wujud. Adakalanya, perubahan itu muncul dalam bentuk perubahan sistem. Ada kalanya pula, perubahan itu tiba dalam bentuk bahan pelajaran baru. Perpaduan diantara berbagai perubahan di dalam pendidikan membawa pendidikan kita ke dalam kegiatan yang selalu dinamik. Dan bersama dinamika itu, pendidikan kita berusaha untuk berkembang bersama dengan semua hajat yang ada di dalam hidup manusia.
Dalam batas tertentu, standar baru pada pendidikan berkaitan pula dengan keadaan hidup di dalam masyarakat. Pada waktunya, pendidikan menyesuaikan diri kepada keadaan masyarakatnya. Dan saatnya pula, pendidikan menjadi perintis bagi perubahan didalam masyarakat. Kaitan diantara pendidikan dan masyarakat ini bersumber pada hakekat hidup. Dan hakekat hidup itu selalu menuntut agar kaitan demikian dapat membuat seluruh hajat hidup manusia menjadi satu sistem yang utuh.

Bagi kelompok manusia, kata abstrak yang memadukan pendidikan dan masyarakat ini perlu dieja ke dalam bentuk yang kasatmata. Dalam pengejaan seperti inilah, mereka menyaksikan berbagai perkembangan masyarakat dalam wujudnya yang nyata. Dan bersamaan dengan itu, mereka melihat juga pendidikan di dalam bentuknya yang sejati.
Kelompok manusia yang kebetulan berfungsi sebagai pendidik itu, melihat betapa pesatnya suatu era baru menyingsing di dalam masyarakat kita. melalui luapan alat yang berwujud komputer, komunikasi di dalam masyarakat mengenai dimensi baru. Masyarakat kita memerlukan data dan informasi melalui standar baru. Data mulai diolah dengan kecermatan dan kecepatan yang tinggi. Informasi yang biasanya terletak di luar jangkauan olah mulai masuk ke dalam jangkauan olah. Dan bersama itu, masyarakat mulai menyadari kenyataan bahwa era baru telah muncul di dalam hidup mereka.
Dalam rangka inilah, kelompok manusia pendidik itu mulai melihat suatu kenyataan baru. Melalui kaitan diantara masyarakat dan pendidikan, standar baru didalam masyarakat perlu diimbangi pula oleh standar baru pendidikan. Kalau masyarakat telah memasuki era baru dengan menerima kehadiran komputer, maka pada tempatnyalah kalau pendidikan mulai pula merintis pengetahuan tentang komputer itu. Dan bersama itu, pendidikan komputer merupakan salah satu standar baru di dalam dinamika pendidikan zaman sekarang.
Segera pula kelompok manusia pendidik itu mengambil tindakan kasat mata. Pada hari Jumat tanggal 7 Agustus 1981, mereka membuka pendidikan komputer dengan nama Program Pendidikan Ilmu Komputer (PPIK) yang menampung 91 orang mahasiswa. Dan pada hari Senin, tanggal 10 Agustus 1981, kuliah pertamapun dimulai. Kuliah inipun berkembang sehingga menuntut suatu wadah yang lebih mantap. Melalui asuhan Yayasan Pengembangan Sistem Analisis dan Operation Research Matematika (SAOR Matematika), wadah pendidikan itu berubah menjadi Akademi Sains dan Komputer Indonesia (ASKI). Sejak itu meluncurlah suatu kegiatan untuk membangkitkan standar baru di dalam pendidikan. Kegiatan itu berbentuk pendidikan ilmu komputer dan matematika.
Pendidikan komputer dan matematika inipun kemudian dimantapkan lagi ke dalam wadah yang lebih tinggi yakni wadah yang berbentuk akademik ke wadah yang berbentuk sekolah tinggi. Pada hari Kamis, tanggal 21 Juni 1984, nama Gunadarma dipilih untuk menjadikan nama dari sekolah tinggi itu. Pada hari Senin, tanggal 9 Juli 1984, Yayasan Pengembangan Sistem Analis dan Operation Research Matematika diganti menjadi Yayasan Pendidikan Gunadarma. Sehari kemudian, pada hari Selasa, Tanggal 10 Juli 1984, melalui Surat Keputusan Yayasan Pendidikan Gunadarma, secara resmi nama Gunadarma dikukuhkan ke dalam sekolah tinggi itu menjadi Sekolah Tinggi Komputer Gunadarma (STKG). Bersama itu, sejak dari tanggal 7 Agustus 1981 melewati tonggak tanggal 21 Juni 1984, tanggal 9 Juli 1994, serta tanggal 10 Juli 1994, satu kurun sejarah telah mengantar pendidikan komputer pada Sekolah Tinggi Komputer Gunadarma ke kurun sejarah berikutnya.
Pemantapan ini kemudian dikukuhkan lagi melalui keputusan yang dirintis oleh Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah III. Pada hari Selasa, tanggal 14 Agustus 1984, Kopertis III memberikan izin operasional kepada STKG. Untuk membangkitkan semangat belajar yang lebih tinggi di kalangan mahasiswa, pada hari Jumat, tanggal 28 September 1984, diselenggarakanlah oleh Gunadarma upacara wisuda pertama setara sarjana muda, untuk diulangi lagi pada hari Selasa, tanggal 24 September 1985, dan pada hari Jumat, tanggal 26 September 1986. Sampai disini, kita mulai melihat STKG ini berkembang diberbagai dimensi serta bersama itu, kita melihat perkembangan itu dari dimensi ke dimensi.
Dimensi pertama adalah dimensi program pendidikan. Pada dimensi ini, STKG mulai memproleh kemajuan yang cukup pesat. Pada hari Sabtu, tanggal 5 Oktober 1985, melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0424/0/1985, sekolah tinggi ini dinyatakan berstatus Terdaftar dengan nama baru Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Gunadarma (STMIK Gunadarma). Bersamaan dengan itu, STKG berubah menjadi STMIK Gunadarma secara lebih rinci lagi, di dalam status Terdaftarnya itu, Gunadarma dapat mengasuh dua Jenjang Pendidikan yakni Jenjang Pendidikan Tinggi Strata Satu (S1) serta Jenjang Pendidikan Tinggi Strata Nol (S0) dalam bentuk Diploma Tiga (D3).
Bersama status itu, Sekolah Tinggi ini mengasuh dua Jurusan yakni Jurusan Manajemen Informatika (MI) dan Jurusan Teknik Komputer (TK). Setiap Jurusan memiliki satu Program Studi yang memiliki nama yang sama dengan Jurusannya itu. Demikianlah pada Manajemen Informatika untuk Jenjang S1 dan D3 serta pada Jurusan Teknik Komputer terdapat Program Studi Teknik Komputer untuk Jenjang S1 dan D3. Dan sebagai pemantapan lebih lanjut, pada hari Selasa, tanggal 29 Juli 1986, STMIK Gunadarma memperoleh Statuta baru dari Yayasan Pendidikan Gunadarma.
Pada hari Selasa, tanggal 13 Januari 1987, untuk pertama kali, STMIK Gunadarma menyelenggarakan Sidang Sarjana yang diikuti oleh tiga mahasiswa. Sidang Ujian untuk tiga mahasiswa berikutnya, diselenggarakan pada hari Jumat, tanggal 16 Januari 1987 dan Sidang Ujian ketiga yang diikuti oleh empat mahasiswa diselenggarakan pada hari Rabu, tanggal 21 Januari 1987. Kalau pada tahun 1984, 1985 dan 1986, Perguruan Tinggi ini hanya dapat menyelenggarakan Wisuda setara Sarjana Muda, maka pada tahun 1987 ini, STMIK Gunadarma telah mampu menyelenggarakan wisuda sesungguhnya. Demikianlah pada hari Sabtu, tanggal 24 Januari 1987, STMIK Gunadarma menyelenggarakan Wisuda Sarjana yang pertama.
Untuk mengukukan Ujian Sarjana itu, maka mulai hari Selasa tanggal 16 Juni 1987, untuk pertama kalinya, STMIK Gunadarma menyelenggarakan Ujian Negara Cicilan (UNC). UNC pertama ini berlangsung dalam Status Terdaftar. Sejak itu, terjadilah maraton diantara sidang Ujian Sarjana, Ujian Negara Cicilan, dan Wisuda. Gabungan dari semua unsur itu menghasilkan Sarjana Manajemen Informatika dan Sarjana Teknik Komputer, lulusan STMIK Gunadarma yang terus bercurahan ke dalam masyarakat.
Sidang Ujian Sarjana ke-4, ke-5 dan ke-6, berlangsung pada hari Selasa tanggal 29 September 1987, pada hari Selasa, tanggal 6 Oktober 1987, pada hari Jumat, tanggal 9 Oktober 1987. Dan Sidang Ujian Sarjana inipun terus berlangsung hinggga pada bulan September 1994, STMIK Gunadarma telah melampui sidangnya yang ke-150. Ujian Negara Cicilan ke-2, ke-3, ke-4, berlangsung mulai hari Senin tanggal 1 November 1987, mulai hari Senin tanggal 20 Juni 1988, mulai hari Senin tanggal 12 Desember 1988. Dan Ujian Negara Cicilan inipun terus berlangsung pada setiap semester sampai sekarang ini. Wisuda sarjana ke-2, ke-3, ke-4, berlangsung pada hari Selasa tanggal 16 Februari 1988, pada hari Sabtu tanggal 21 Januari 1989, pada hari Sabtu tanggal 17 Februari 1990. Dan demikianlah, wisuda terus berlangsung, dari setahun sekali menjadi setahun dua kali.
Kemajuan di dimensi program ini tidak hanya sampai disitu. Pada hari Senin tanggal 4 Januari 1988, melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaaan No.006/O/1988, Status Terdaftar STMIK Gunadarma Program Studi Manajemen Informatika dan Program Studi Teknik Komputer dinaikkan menjadi Status Diakui. Dan sekali lagi pada hari Sabtu tanggal 12 Agustus 1989 melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0490/O/1989, Status kedua Program Studi itu dinaikkan lagi menjadi Status Disamakan.
Pengembangan Program Pendidikan terus berlanjut sehingga pada hari Selasa tanggal 4 Juli 1989, STMIK Gunadarma membuka lagi Jurusan baru yakni Jurusan Teknik Informatika (TI) dengan program studi Teknik Informatika. Pada hari Kamis, tanggal 7 September 1989, Jurusan dan Program Studi baru ini memperoleh Status Terdaftar. Selanjutnya, Status Diakui dicapai Program Studi Teknik Informatika pada hari Rabu, tanggal 19 Juni 1991, serta Status Disamakan diperoleh pada hari Kamis, tanggal 20 Februari 1992. Dan bersamaan dengan itu, semua Program Studi di STMIK Gunadarma telah mencapai Status Disamakan.
Pengembangan Program Pendidikan terus berlangsung. Selain Program Pendidikan Jenjang D3 dan Jenjang S1, Perguruan Tinggi ini juga melangkah maju ke Program Pendidikan Tinggi Strata Dua (S2) yang dikenal Program Pendidikan Magister. Pada hari Senin, tanggal 10 Mei 1993, STMIK Gunadarma dilengkapi lagi dengan Program Pasca Sarjana Strata Dua bidang Manajemen Sistem Informasi.
Disamping Bidang Manajemen Informatika, Teknik Komputer, dan Teknik Informatika Gunadarma juga melangkah ke Bidang lain. Pada hari Sabtu tanggal, 13 Januari 1990 Gunadarma mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Gunadarma atau dikenal dengan STIE Gunadarma. Di dalam STIE Gunadarma terdapat dua Jurusan, yakni Jurusan Manajemen dan Jurusan Akuntansi. Kalau Jurusan Akuntansi hanya mengasuh satu program studi, yakni Program Studi Akuntansi, maka Jurusan Manajemen mengasuh lima Program Studi, yakni Program Studi Manajemen Keuangan dan Perbankan, Manajemen Pemasaran, Manajemen Produksi, Manajemen Trasportasi dan Manajemen Koperasi. STIE Gunadarma memperoleh Status Terdaftar pada hari Kamis tanggal 16 Juni 1990 serta mulai berkuliah pada hari Senin tanggal 17 September 1990.
Sejalan dengan STMIK Gunadarma status STIE Gunadarma juga mengalami kemajuan yang pesat. Dari Status Terdaftar memperoleh Status Diakui dan kemudian Status Disamakan. Sampai pada bulan September 1994, STIE telah menjalankan tiga kali Wisuda. Selanjutnya, bersamaan waktu dengan pembukaan Program Pendidikan Tinggi Strata Dua Bidang Manajemen Sistem Informasi pada STMIK, STIE juga membuka Program Pendidikan Tinggi Strata Dua di Bidang Manajemen Asuransi.

Dimensi ke dua adalah dimensi prasarana dan sarana. Di bidang prasarana dan sarana ini, lokasi pendidikan juga mengalami kemajuan. Kalau pada saat awal, lokasi pendidikan hanya terdapat di Kampus Jalan Kenari, maka pada waktu kemudian lokasi itu bertambah dengan Kampus Kramat Sentiong dan Kampus Salemba. Dari tahun ke tahun ketiga Kampus itu menampung jumlah mahasiswa yang terus bertambah. Sekali pun ruang di Kampus Kenari terus diperluas namun pada akhirnya perluasan Kampus inipun tidak dapat menampung pertambahan mahasiswa yang demikian besarnya.
Demikianlah pada hari Sabtu, tanggal 9 Maret 1985 Gunadarma mengadakan upacara peletakan batu pertama di Kampus Pondok Cina Depok, dan pada hari Senin tanggal 5 Januari 1987 dengan suatu upacara gedung pertama di Kampus Pondok Cina diresmikan penggunaannya. Sejak itu gedung di Kampus Pondok Cina ini bertambah. Mula-mula, batu pertama untuk gedung kedua diletakkan pada hari Sabtu tanggal 26 September 1987, dan gedung kedua inipun mulai dipakai pada hari Jumat tanggal 13 Januari 1989. Setelah itu gedung ketigapun dibangun dan dipakai. Ruang di dalam ketiga gedung ini masih belum mencukupi sehingga masih dilengkapi lagi dengan sejumlah gedung sementara disekitarnya.
Selain Pondok Cina, prasarana kampus dipersiapkan juga di Beji. Namun karena akses ke daerah kampus belum memadai, maka Kampus Beji belum juga diwujudkan. Sebaliknya kampus ditengah kota Jakarta terus bertambah. Setelah mengembalikan Kampus Salemba yang masa sewanya telah usai, maka pada hari Kamis, tanggal 8 Februari 1989 Gunadarma menambah kampus baru di Jalan Raya Salemba No.53. Kampus inipun dikenal sebagai Kampus Salemba. Dan mulai digunakan pada bulan Mei 1990. Ini berarti disamping Kampus Beji yang belum terwujud, Gunadarma telah memiliki beberapa kampus yaitu Kampus Kenari, Kampus Kramat Sentiong, Kampus Pondok Cina dan Kampus Salemba.
Tekanan jumlah mahasiswa menyebabkan Gunadarma mencari lagi kampus baru. Pada bulan Januari 1991, Gunadarma memperoleh tanah di Kelapa Dua yang terletak di Jalan Akses UI di dekat Pondok Cina. Pada hari Kamis, tanggal 28 Maret 1991, batu pertama gedung pertama di Kampus Kelapa Dua diletakkan dan pada hari Selasa tanggal 17 September 1991, gedung pertama Kampus Kelapa Dua ini mulai digunakan. Sejak itu Kampus Kelapa Dua terus berkembang dan pada bulan Septembar 1994, Kampus Kelapa Dua telah memiliki lima gedung kuliah.

Gunadarma bercita-cita untuk membangun gedung delapan lantai di Kampus Kenari. Sementara kampus seperti ini belum terwujud, perkuliahan di kampus Kenari dialihkan ke kampus sementara di Pegangsaan. Demikianlah, perkuliahan di Gunadarma berlangsung di lima kampus yang terpencar dari tengah Jakarta sampai ke Depok. Semua kampus ini dikoordinasikan dari satu pusat yang terletak di kampus Pondok Cina.
Prasarana dan sarana lain adalah Laboratorium. Disamping Perpustakaan dan Laboratorium Komputer yang telah terbentuk sejak jaman PPIK, maka pada hari Kamis, tanggal 16 Dessember 1986 Gunadarma meresmikan Laboratorium Elektronika Dasar. Pada hari Senin, tanggal 23 Maret 1987, Gunadarma meresmikan Laboratorium Fisika. Laboratorium inilah yang telah digunakan oleh Gunadarma untuk menyelenggarakan promosi Open House pada hari Selasa, tanggal 28 Maret 1989.
Sekalipun tidak terwujud alat dan gedung, sarana yang cukup penting di Gunadarma adalah majalah ilmiah Matematika dan Komputer yang mulai terbit sejak bulan Januari 1985 dengan penerbitan lima kali setahun, majalah ini memperoleh Surat Tanda Terdaftar di Departemen Penerangan pada hari Sabtu, tanggal 17 Januari 1987. Tulisan di dalam Majalah Ilmiah ini telah membantu Gunadarma dengan perluasan informasi tentang pendidikan di dalam Gunadarma.
Sarana lain yang cukup berhasil di Gunadarma selama ini adalah penerbitan buku dan diktat. Telah banyak judul buku dan diktat yang dicetak oleh Gunadarma untuk keperluan kuliah para mahasiswa. Selain dalam bentuk konvensional berupa buku, beberapa bahan kuliahpun telah diwujudkan dalam bentuk audio dan visual di dalam pita video yang setiap saat dapat ditampilkan di layar monitor.
Dimensi ketiga adalah kegiatan di luar kurikulum. Selain kegiatan Lomba Kecerdasan, baik Tingkat Nasional maupun Tingkat Internasional tampaknya kegiatan Gunadarma yang paling menonjol adalah di Bidang Catur.
Wadah kegiatan catur adalah Pecinta Catur Gunadarma atau PC Gunadarma yang diresmikan pada hari Sabtu, tanggal 25 Februari 1989. PC Gunadarma telah berhasil menyelenggarakan Lomba Catur taraf Internasional yang melibatkan Grand Master Catur Internasional untuk perebutan gelar dunia di bidang catur.
Setelah meninjau perkembangan pada beberapa dimensi ini, kita kembali kepemikiran dasar Gunadarma. Gunadarma memiliki dua muka yang mendorong maju hajat hidupnya di dalam masyarakat masa kini. Pada satu muka, Gunadarma adalah nama arsitek tenar yang membangun Candi Borobudur, yakni suatu monumen besar sepanjang sejarah kita. Pada muka lainnya, Gunadarma mencerminkan buktinya dan sumbangsihnya kepada masyarakat dalam wujud Guna dan Darma. Sebagai salah satu perintis standar baru di dalam pendidikan, Gunadarma berusaha pula untuk mengisi kemampuan masyarakat di dalam standar baru kehidupan bermasyarakat masa kini melalui penyelenggaraan pendidikan. Dan di dalam hal ini, Gunadarma telah memulainya dari pendidikan di bidang komputer.
Di dalam pelaksanaan pendidikannya itu, unsur guna dan unsur darma senantiasa menjadi pegangan untuk dijadikan sumbangsih Gunadarma kepada masyarakat dan ilmu. Gagasan ini turut merumuskan susunan kurikulum di dalam pendidikan. Unsur profesi dan unsur ilmu di dalam kurikulum senantiasa menjadi perhatian para pengasuhnya. Ketrampilan profesi dan kemampuan ilmu mewarnai pendidikan dari awal sampai akhir.
Dalam rangka inilah laboratorium, pustaka, dan jurnal memperoleh perhatian Gunadarma. Di dalam ribaannya, terdapat Laboratorium Gunadarma (LG) yang mewakili berbagai laboratorium dan bengkel yang di dalam Gunadarma serta Pustaka Gunadarma (PG) yang mewakili perpustakaan, penerbitan buku, dan penerbitan jurnal berupa Matematika dan Komputer yang kelak dapat disusul dengan penerbitan jurnal lainnya.
Dari waktu ke waktu LG terus ditingkatkan agar praktek pada mahasiswa dapat diperlancar. Bahkan, pengasuh Gunadarma bercita-cita lebih dari itu. Mereka berkehendak agar penggunaan laboratorium tidak sekedar terbatas kepada praktek di dalam pelajaran. Mereka menginginkan agar LG terbuka juga bagi penelitian dan bagi percobaan yang bersifat inovatif, baik berupa penciptaan maupun berupa penemuan baru. Siapa saja yang memiliki gagasan baru yang akan dicoba, dapat saja menggunakan LG untuk maksudnya itu.
Niat untuk maju itu senantiasa diusahakan untuk ditunjang oleh pustaka yang sebaik mungkin. Selama beberapa tahun ini, PG selalu memperoleh perhatian yang besar dari pengasuh Gunadarma. Pustaka cetak dan pustaka rekam terus menerus diperluas untuk menunjang kegiatan belajar ke berbagai cabang ilmu yang diasuh oleh Sekolah Tinggi ini. Disamping LG, PG juga menempati kedudukan sentral di lingkungan Gunadarma.
Di dalam dua wadah yang berupa LG dan PG, tiga serangkai laboratorium, pustaka, dan jurnal ilmiah di Gunadarma ini merupakan satu kesatuan utuh untuk mewujudkan sumbangsih Gunadarma di dalam bentuk Guna dan Darma. Sejalan dengan usia Gunadarma yang masih muda, mereka juga masih bergerak dalam taraf awal dari kegiatan mereka. Namun, melalui perhatian yang besar dari para pengasuh Gunadarma, mereka diharapkan dapat berkembang secara wajar untuk mewujudkan cita-cita Gunadarma dari STMIK Gunadarma ke STIE Gunadarma, ke Program Pasca Sarjana Gunadarma, pendidikan ini akan terus berkembang menuju dan sampai ke wujud Universitas Gunadarma.
Di dalam rangka inilah, tiga serangkai itu mencoba untuk menyusun sejumlah kegiatan yang dapat mencerminkan cita-cita Gunadarma. Didalam kegiatan itu terdapat penelitian, kelompok studi, dan penataran. Guna bagi masyarakat dan darma bagi ilmu tercermin pula didalam kegiatan itu. Penelitian dan kelompok studi di kalangan pengasuh Gunadarma berusaha untuk berdarma bagi ilmu, sementara penataran berusaha untuk berguna bagi masyarakat.
Ada satu hal penting yang selalu menghantui pengasuh Gunadarma didalam usaha mereka untuk memberi arah kepada Gunadarma. Hal penting itu adalah mutu. Segala usaha dilakukan, tidak saja demi peningkatan mutu pendidikan, melainkan juga demi peningkatan mutu ilmu di lingkungan Gunadarma. Dan usaha itu pula yang seharusnya tampak di dalam kegiatan Gunadarma selama ini.
Didalam pembangunannya, Gunadarma selalu bersikap selektif. Prioritas pembangunan selalu mengarah kepeningkatan mutu. Setapak demi setapak, Gunadarma berusaha mengutamakan pengadaan ruang belajar, ruang laboratorium, ruang pustaka, dan sarana publikasi.
Mereka itulah unsur pokok dalam pembinaan mutu, baik mutu para dosennya maupun mutu para mahasiswanya. Betapapun juga, mahasiswa yang diajar oleh dosen yang tenar akan selalu memperoleh keuntungan dari ketenaran dosennya itu.
Namun prasarana untuk peningkatan ini masih perlu ditunjang lagi oleh sarana lain. Ruang belajar belum sama dengan belajar, pustaka belum sama dengan membaca, laboratorium belum sama dengan berpraktek, serta majalah belum sama dengan menulis. Sarana pokok yang perlu mendampingi prasarana itu adalah suasana lingkungan belajar yang baik berupa budaya Gunadarma. Hanya suasana lingkungan belajar yang baik atau budaya Gunadarma yang dapat membuat ruang belajar itu tempat belajar, pustaka itu tempat membaca, laboratorium itu tempat berpraktek, serta majalah atau jurnal itu tempat menulis.
Hal inilah yang menyebabkan pengasuh Gunadarma berusaha untuk membina budaya Gunadarma atau suasana yang baik di lingkungan belajar di Gunadarma. Budaya Gunadarma atau suasana yang baik di lingkungan belajar menyangkut manusia. Dan manusia itulah yang menentukan bagaimana bentuk suasana di lingkungan belajar mereka. Itulah sebabnya maka selama ini, Gunadarma selalu berusaha menghimpun tenaga pengasuh yang memiliki kegemaran untuk belajar. Kepada kelompok gemar belajar inilah Gunadarma menyerahkan tanggung jawab untuk menularkan kegemaran itu keseluruh lingkungan Gunadarma untuk dimantapkan menjadi bagian dari budaya Gunadarma.
Demikianlah disamping ruang belajar, pustaka, laboratorium, dan majalah, kelompok gemar belajar merupakan aset Gunadarma yang selalu diutamakan di dalam pembangunan Gunadarma. Kelompok gemar belajar ditargetkan untuk menjadi inti penggerak pendidikan di lingkungan Gunadarma. Dan kegemaran belajar ini pula yang akan ditanamkan di kalangan mahasiswa yang telah memilih Gunadarma sebagai almamater mereka.
Berguna bagi masyarakat dan berdarma bagi ilmu memiliki implikasi yang luas. Pada masa yang akan datang, Gunadarma bercita-cita untuk menelaah bidang ilmu lainnya yang pada saat ini, secara nyata telah menampakan keefektifan dari segi profesinya dan segi ilmunya di dalam masyarakat. Gunadarma akan menjamah bidang ilmu lain di luar Komputer dan Ekonomi untuk menyumbangkan guna dan darmanya kepada masyarakat.
Manakala kekuatannya sudah cukup memadai, maka Gunadarma akan menjamah pula bidang ilmu demikian untuk mengikuti dan mengejawantahkan standar baru di dalam masyarakat dan standar baru di dalam pendidikan. Pada waktunya, Gunadarma bercita-cita untuk meningkatkan dirinya dari wadah Sekolah Tinggi ke wadah yang lebih tinggi lagi, yakni ke tingkat Universitas. Namun peningkatan demikian ini tidak dilakukan tanpa mutu yang memadai. Disamping perhatian kepada keluasan kegiatan di bidang pendidikan, Gunadarma tetap menempatkan mutu atau kualitas pada tempat yang pertama.

Gunadarma adalah suatu keseluruhan yang bernama Gunadarma. Gunadarma bukan hanya sekedar STMIK Gunadarma, demikian juga Gunadarma bukan hanya sekedar STIE Gunadarma. Gunadarma juga bukan sekedar Program Pasca Sarjana Gunadarma. Gunadarma adalah keseluruhan yang bernama Gunadarma, dari STMIK, STIE, ke berbagai wadah perkembangan lainnya sampai ke Universitas Gunadarma. Di dalam Gunadarma terdapat LG dan PG, di dalam Gunadarma terdapat Laboratorium, Pustaka, dan Jurnal Ilmiah, di dalam Gunadarma terdapat Penelitian, Kelompok Studi, dan Penataran, di dalam Gunadarma terdapat budaya Gunadarma dalam wujud lingkungan belajar yang mewadai, di dalam Gunadarma terdapat guna bagi masyarakat dan darma bagi ilmu, dan di dalam Gunadarma terdapat sumbangsih guna dan darma yang diberikan oleh Gunadarma kepada masyarakat.
Ternyata cita-cita ini tidak berhenti sebagai cita-cita saja. Setelah 15 tahun lamanya lembaga pendidikan ini berdiri sambil merayap dari Program Pendidikan Ilmu Komputer (PPIK) yang bersahaja ke Akademi Sains dan Komputer Indonesia (ASKI) yang lebih sederhana ke STMIK dan STIE Gunadarma yang lebih mantap, maka pada tahun 1996 lembaga pendidikan itu berhasil sampai ke taraf yang sudah lama dicita-citakan. Melalui Surat Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi No.92/KEP/ DIKTI/1996, tanggal 3 April 1996. Lembaga pendidikan itu berhasil dikukuhkan menjadi Universitas Gunadarma (UG). Dibawah naungannya terdapat sejumlah Fakultas dari Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Teknologi Industri, Fakultas Ekonomi, dengan Program Studi yang telah dimiliki Status Disamakan sampai ke Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Fakultas Psikologi, dan Fakultas Sastra yang sama sekali baru. Mereka tersebar di tujuh kampus dari Kampus A sampai Kampus G.
Pada tahun 1996, kedudukan Universitas Gunadarma cukup luar biasa. Ibarat bulan Januari dengan dewa Janus yang memiliki dua muka, satu muka menatap tahun yang lama serta muka lain menatap ke tahun yang baru, maka UG pun memiliki dua muka. Pada satu muka, UG merupakan puncak dari suatu perkembangan, dari wujud program yang bersahaja sampai ke wujud universitas yang kompleks. Pada tahun 1981, seperti halnya bulan Januari yang meninggalkan tahun yang lama untuk membuka lembaran tahun yang baru UG pun kini meninggalkan masa lalunya yang berwujud Program, Akademik, dan Sekolah Tinggi untuk memulai lembaran baru yang berwujud Universitas.

Dengan program Diploma Tiga, Strata Satu, dan Strata Dua di dalam asuhannya, Universitas Gunadarma melangkah ke masa depan dengan membentuk lebih banyak tonggak sejarah lagi. Tonggak pertama adalah pengakuan terhadap Universitas Gunadarma oleh pihak luar.
Sejak tanggal 17 November 1997, berdasarkan suatu evaluasi, Badan Akreditasi Nasional (BAN) menyatakan lima Program Studi pada Strata Satu sebagai terakreditasi. Dan pada bulan Agustus 1998, kelima Program Studi pada Strata Satu itu, yakni Akuntansi, Manajemen, Manajemen Informatika, Teknik Komputer, dan Teknik Informatika, memperoleh peringkat A pada akreditasi BAN itu. Dari kegiatan awal di bidang komputer, kini Gunadarma telah mengasuh berbagai bidang ilmu dan berbagai jenjang pendidikan.
Pada saat Gunadarma mencapai usia 19 tahun, tibalah Gunadarma di ujung abad ke-20. Sebelum meninggalkan abad ke-20, Gunadarma masih sempat mengembangkan bidang akademiknya. Mulai tanggal 25 September tahun 2000, untuk pertama kalinya, Gunadarma membuka Program Strata Tiga atau Program Doktor di bidang Ilmu Ekonomi. Demikianlah dengan program Jenjang Pendidikan Diploma (D3), Jenjang Pendidikan Sarjana (S1), Jenjang Pendidikan Magister (S2), Jenjang Pendidikan Doktor (S3), 41 laboratorium, beserta sekitar 13.000 alumni Jenjang D3, 19.000 lebih alumni jenjang S1, dan 400 lebih alumni jenjang S2, Gunadarma meninggalkan abad ke-20 dan milenium ke-2.
Pada tahun 2001, Gunadarma memasuki abad ke-21 dan milenium ke-3 dengan 26.000 lebih mahasiswa yang diasuh oleh 1.100 lebih tenaga pengajar. Di awal abad baru ini, Gunadarma merayakan ulang tahun ke-20 dan meneruskan misi pendidikannya sambil terus berusaha meningkatkan mutunya. Kesempatan pengembangan pertama di dalam abad baru ini terjadi pada tahun 2003. Sejak Januari 2003, bekerja sama dengan Universite de Bourgogne dari kota Dijon, Perancis, Gunadarma membuka lagi program pendidikan jenjang S3 di bidang Teknologi Informasi/Ilmu Komputer. Pengembangan berikutnya terjadi pada tahun 2004 ketika Gunadarma mulai meluluskan doktor di bidang Ilmu Ekonomi.
Perkembangan berikutnya terjadi pada awal tahun 2006. Pada waktu itu Gunadarma mulai meluluskan doktor di bidang Teknologi Informasi/Ilmu Komputer setelah sebelumnya mereka menempuh ujian tertutup di Dijon, Perancis, pada bulan September 2005. Gunadarma yang dimulai dari bentuk sekolah tinggi dan menanjak menjadi universitas, kini sampai ke taraf universitas penuh dengan meluluskan peserta didik dari jenjang diploma, sarjana, magister, dan doktor.


ACCOUNTANCY


“ACCOUNTANCY”

Accountancy is the process of communicating financial information about a business entity to users such as shareholders and managers. The communication is generally in the form of financial statements that show in money terms the economic resources under the control of management; the art lies in selecting the information that is relevant to the user and is reliable. The principles of accountancy are applied to business entities in three divisions of practical art, named accounting, bookkeeping, and auditing.
The American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) defines accountancy as "the art of recording, classifying, and summarizing in a significant manner and in terms of money, transactions and events which are, in part at least, of financial character, and interpreting the results thereof."
Accounting is thousands of years old; the earliest accounting records, which date back more than 7,000 years, were found in Mesopotamia (Assyrians). The people of that time relied on primitive accounting methods to record the growth of crops and herds. Accounting evolved, improving over the years and advancing as business advanced.
Early accounts served mainly to assist the memory of the businessperson and the audience for the account was the proprietor or record keeper alone. Cruder forms of accounting were inadequate for the problems created by a business entity involving multiple investors, so double-entry bookkeeping first emerged in northern Italy in the 14th century, where trading ventures began to require more capital than a single individual was able to invest. The development of joint stock companies created wider audiences for accounts, as investors without firsthand knowledge of their operations relied on accounts to provide the requisite information. This development resulted in a split of accounting systems for internal (i.e. management accounting) and external (i.e. financial accounting) purposes, and subsequently also in accounting and disclosure regulations and a growing need for independent attestation of external accounts by auditors.
Today, accounting is called "the language of business" because it is the vehicle for reporting financial information about a business entity to many different groups of people. Accounting that concentrates on reporting to people inside the business entity is called management accounting and is used to provide information to employees, managers, owner-managers and auditors. Management accounting is concerned primarily with providing a basis for making management or operating decisions. Accounting that provides information to people outside the business entity is called financial accounting and provides information to present and potential shareholders, creditors such as banks or vendors, financial analysts, economists, and government agencies. Because these users have different needs, the presentation of financial accounts is very structured and subject to many more rules than management accounting. The body of rules that governs financial accounting in a given jurisdiction is called Generally Accepted Accounting Principles, or GAAP. Other rules include International Financial Reporting Standards, or IFRS, or US GAAP.


Sabtu, 21 April 2012

ONLINE SHOP



“ONLINE SHOPPING”

Online shopping is a form of electronic commerce whereby consumers directly buy goods or services from a seller over the Internet without an intermediary service. An online shop, eshop, e-store, Internet shop, webshop, webstore, online store, or virtual store evokes the physical analogy of buying products or services at a bricks-and-mortar retailer or shopping centre. The process is called business-to-consumer (B2C) online shopping. When a business buys from another business it is called business-to-business (B2B) online shopping.
History
In 1990 Tim Berners-Lee created the first World Wide Web server and browser. It opened for commercial use in 1991 . In 1994 other advances took place, such as online banking and the opening of an online pizza shop by Pizza Hut. During that same year, Netscape introduced SSL encryption of data transferred online, which has become essential for secure online shopping. Also in 1994 the German company Intershop introduced its first online shopping system. In 1995 Amazon launched its online shopping site, and in 1996 eBay appeared.
Customers
Online customers must have access to a computer and a method of payment.
In general, higher levels of education, income, and occupation of the head of the household correspond to more favorable perceptions of non-store shopping. Also, increased exposure to technology increases the probability of developing favorable attitudes towards new shopping channels.
In a December 2011 study Equation Research found that 87% of tablet users made an online transaction with their tablet device during the early holiday shopping season.
Logistics
Consumers find a product of interest by visiting the website of the retailer directly or by searching among alternative vendors using a shopping search engine.
Once a particular product has been found on the web site of the seller, most online retailers use shopping cart software to allow the consumer to accumulate multiple items and to adjust quantities, like filling a physical shopping cart or basket in a conventional store. A "checkout" process follows (continuing the physical-store analogy) in which payment and delivery information is collected, if necessary. Some stores allow consumers to sign up for a permanent online account so that some or all of this information only needs to be entered once. The consumer often receives an e-mail confirmation once the transaction is complete. Less sophisticated stores may rely on consumers to phone or e-mail their orders (though credit card numbers are not accepted by e-mail, for security reasons).

Payment
Online shoppers commonly use a credit card to make payments, however some systems enable users to create accounts and pay by alternative means, such as:
Some sites will not accept international credit cards, some require both the purchaser's billing address and shipping address to be in the same country in which site does its business, and still other sites allow customers from anywhere to send gifts anywhere. The financial part of a transaction might be processed in real time (for example, letting the consumer know their credit card was declined before they log off), or might be done later as part of the fulfillment process.
Product delivery
Once a payment has been accepted the goods or services can be delivered in the following ways.
  • Downloading: This is the method often used for digital media products such as software, music, movies, or images.
  • Drop shipping: The order is passed to the manufacturer or third-party distributor, who ships the item directly to the consumer, bypassing the retailer's physical location to save time, money, and space.
  • In-store pickup: The customer orders online, finds a local store using locator software and picks the product up at the closest store. This is the method often used in the bricks and clicks business model.
  • Printing out, provision of a code for, or emailing of such items as admission tickets and scrip (e.g., gift certificates and coupons). The tickets, codes, or coupons may be redeemed at the appropriate physical or online premises and their content reviewed to verify their eligility (e.g., assurances that the right of admission or use is redeemed at the correct time and place, for the correct dollar amount, and for the correct number of uses).
  • Shipping: The product is shipped to the customer's address or that of a customer-designated third party.
  • Will call, COBO (in Care Of Box Office), or "at the door" pickup: The patron picks up pre-purchased tickets for an event, such as a play, sporting event, or concert, either just before the event or in advance. With the onset of the Internet and e-commerce sites, which allow customers to buy tickets online, the popularity of this service has increased.
Shopping cart systems
  • Simple systems allow the offline administration of products and categories. The shop is then generated as HTML files and graphics that can be uploaded to a webspace. These systems do not use an online database.
  • A high end solution can be bought or rented as a standalone program or as an addition to an enterprise resource planning program. It is usually installed on the company's own webserver and may integrate into the existing supply chain so that ordering, payment, delivery, accounting and warehousing can be automated to a large extent.
  • Other solutions allow the user to register and create an online shop on a portal that hosts multiple shops at the same time.
  • Open source shopping cart packages include advanced platforms such as Interchange, and off the shelf solutions as Avactis, Satchmo, osCommerce, Magento, Zen Cart, VirtueMart, Batavi and PrestaShop.
  • Commercial systems can also be tailored to one's needs so the shop does not have to be created from scratch. By using a pre-existing framework, software modules for various functionalities required by a web shop can be adapted and combined.
Online shopping
Like many online auction websites, many websites allow small businesses to create and maintain online shops (ecommerce online shopping carts), without the complexity that involved in purchasing and developing an expensive stand alone ecommerce software solutions.
Design
Customers are attracted to online shopping not only because of the high level of convenience, but also because of the broader selection, competitive pricing, and greater access to information. Business organizations seek to offer online shopping because it is much lower cost compared to bricks and mortar stores, offers access to a world wide market, increases customer value and builds sustainable capabilities.
Information load
Designers of online shops are concerned with the effects of information load - whether consumers can be given too much information in virtual shopping environments. Information load is a product of the spatial and temporal arrangements of stimuli in the webstore. Compared with conventional retail shopping, the information environment of virtual shopping is enhanced by providing additional product information such as comparative products and services as well as various alternatives and attributes of each alternative, etc.
Two major dimensions of information load are complexity and novelty. Complexity refers to the number of different elements or features of a site, often the result of increased information diversity. Novelty involves the unexpected, suppressed, new, or unfamiliar aspects of the site. The novelty dimension may keep consumers exploring a shopping site, whereas the complexity dimension may induce impulse purchases.
Consumer needs and expectations
A successful webstore is not just a good looking website with dynamic technical features, listed in many search engines. In addition to disseminating information, it is about building relationships and making money.
Businesses often attempt to adopt online shopping techniques without understanding them and/or without a sound business model, producing webstores that support the organizations' culture and brand name without satisfying consumer's expectations. User-centered design is critical. Understanding the customer's wants and needs and living up to promises gives the customer a reason to come back and meeting their expectations gives them a reason to stay. It is important that the website communicates to the customer that the company cares about them.
Customer needs and expectations are not the same for all customers. Age, gender, experience, culture are all important factors. For example, Japanese cultural norms may lead users there to feel privacy is especially critical on shopping sites and emotional involvement is highly important on financial pensions sites. Users with more online experience focus more on the variables that directly influence the task, while novice users focus on understanding the information.
To increase online purchases, businesses must expend significant time and money to define, design, develop, test, implement, and maintain the webstore. It is easier to lose a customer then to gain one and even "top-rated" sites will not succeed if the organization fails to practice common etiquette such as returning e-mails in a timely fashion, notifying customers of problems, being honest, and being good stewards of the customers' data. Because it is important to eliminate mistakes and be more appealing to online shoppers, many webshop designers study research on consumer expectations.
The most important factors determining whether customers return to a site are ease of use and the presence of user-friendly features. Usability testing is important for finding problems and improvements in a web site. Methods for evaluating usability include heuristic evaluation, cognitive walk through, and user testing. Each technique has its own characteristics and emphasizes different aspects of the user experience.
Market share
E-commerce B2C product sales totaled $142.5 billion, representing about 8% of retail product sales in the United States. The $26 billion worth of clothes sold online represented about 13% of the domestic market, and with 72% of women looking online for apparel, it has become one of the most popular cross-shopping categories. Forrester Research estimates that the United States online retail industry will be worth $279 billion in 2015.
For developing countries and low-income households in developed countries, adoption of e-commerce in place of or in addition to conventional methods is limited by a lack of affordable Internet access.

Advantages
Convenience
Online stores are usually available 24 hours a day, and many consumers have Internet access both at work and at home. Other establishments such as internet cafes and schools provide access as well. A visit to a conventional retail store requires travel and must take place during business hours.
In the event of a problem with the item it is not what the consumer ordered, or it is not what they expected—consumers are concerned with the ease with which they can return an item for the correct one or for a refund. Consumers may need to contact the retailer, visit the post office and pay return shipping, and then wait for a replacement or refund. Some online companies have more generous return policies to compensate for the traditional advantage of physical stores. For example, the online shoe retailer Zappos.com includes labels for free return shipping, and does not charge a restocking fee, even for returns which are not the result of merchant error. (Note: In the United Kingdom, online shops are prohibited from charging a restocking fee if the consumer cancels their order in accordance with the Consumer Protection (Distance Selling) Act 2000).
Information and reviews
Online stores must describe products for sale with text, photos, and multimedia files, whereas in a physical retail store, the actual product and the manufacturer's packaging will be available for direct inspection (which might involve a test drive, fitting, or other experimentation).
Some online stores provide or link to supplemental product information, such as instructions, safety procedures, demonstrations, or manufacturer specifications. Some provide background information, advice, or how-to guides designed to help consumers decide which product to buy.
Some stores even allow customers to comment or rate their items. There are also dedicated review sites that host user reviews for different products. Reviews and now blogs gives customers the option of shopping cheaper organise purchases from all over the world without having to depend on local retailers.
In a conventional retail store, clerks are generally available to answer questions. Some online stores have real-time chat features, but most rely on e-mail or phone calls to handle customer questions.
Price and selection
One advantage of shopping online is being able to quickly seek out deals for items or services with many different vendors (though some local search engines do exist to help consumers locate products for sale in nearby stores). Search engines, online price comparison services and discovery shopping engines can be used to look up sellers of a particular product or service.
Shipping costs (if applicable) reduce the price advantage of online merchandise, though depending on the jurisdiction, a lack of sales tax may compensate for this.
Shipping a small number of items, especially from another country, is much more expensive than making the larger shipments bricks-and-mortar retailers order. Some retailers (especially those selling small, high-value items like electronics) offer free shipping on sufficiently large orders.
Another major advantage for retailers is the ability to rapidly switch suppliers and vendors without disrupting users' shopping experience..
Disadvantages
Fraud and security concerns
Given the lack of ability to inspect merchandise before purchase, consumers are at higher risk of fraud on the part of the merchant than in a physical store. Merchants also risk fraudulent purchases using stolen credit cards or fraudulent repudiation of the online purchase. With a warehouse instead of a retail storefront, merchants face less risk from physical theft.
Secure Sockets Layer (SSL) encryption has generally solved the problem of credit card numbers being intercepted in transit between the consumer and the merchant. Identity theft is still a concern for consumers when hackers break into a merchant's web site and steal names, addresses and credit card numbers. A number of high-profile break-ins in the 2000s has prompted some U.S. states to require disclosure to consumers when this happens. Computer security has thus become a major concern for merchants and e-commerce service providers, who deploy countermeasures such as firewalls and anti-virus software to protect their networks.
Phishing is another danger, where consumers are fooled into thinking they are dealing with a reputable retailer, when they have actually been manipulated into feeding private information to a system operated by a malicious party. Denial of service attacks are a minor risk for merchants, as are server and network outages.
Quality seals can be placed on the Shop web page if it has undergone an independent assessment and meets all requirements of the company issuing the seal. The purpose of these seals is to increase the confidence of the online shoppers; the existence of many different seals, or seals unfamiliar to consumers, may foil this effort to a certain extent. A number of resources offer advice on how consumers can protect themselves when using online retailer services. These include:
  • Sticking with known stores, or attempting to find independent consumer reviews of their experiences; also ensuring that there is comprehensive contact information on the website before using the service, and noting if the retailer has enrolled in industry oversight programs such as trust mark or trust seal.
  • Before buying from a new company, evaluate the website by considering issues such as: the professionalism and user-friendliness of the site; whether or not the company lists a telephone number and/or street address along with e-contact information; whether a fair and reasonable refund and return policy is clearly stated; and whether there are hidden price inflators, such as excessive shipping and handling charges.
  • Ensuring that the retailer has an acceptable privacy policy posted. For example note if the retailer does not explicitly state that it will not share private information with others without consent.
  • Ensuring that the vendor address is protected with SSL (see above) when entering credit card information. If it does the address on the credit card information entry screen will start with "HTTPS".
  • Using strong passwords, without personal information. Another option is a "pass phrase," which might be something along the lines: "I shop 4 good a buy!!" These are difficult to hack, and provides a variety of upper, lower, and special characters and could be site specific and easy to remember.
Although the benefits of online shopping are considerable, when the process goes poorly it can create a thorny situation. A few problems that shoppers potentially face include identity theft, faulty products, and the accumulation of spyware. Whenever you purchase a product, you are going to be required to put in your credit card information and billing/shipping address. If the website is not secure a customers information can be accessible to anyone who knows how to obtain it. Most large online corporations are inventing new ways to make fraud more difficult, however, the criminals are constantly responding to these developments with new ways to manipulate the system. Even though these efforts are making it easier to protect yourself online, it is a constant fight to maintain the lead. It is advisable to be aware of the most current technology and scams out there to fully protect yourself and your finances.One of the hardest areas to deal with in online shopping is the delivery of the products. Most companies offer shipping insurance in case the product is lost or damaged; however, if the buyer opts not to purchase insurance on their products, they are generally out of luck. Some shipping companies will offer refunds or compensation for the damage, but it is up to their discretion if this will happen. It is important to realize that once the product leaves the hands of the seller, they have no responsibility (provided the product is what the buyer ordered and is in the specified condition).
Lack of full cost disclosure
The lack of full disclosure with regards to the total cost of purchase is one of the concerns of online shopping. While it may be easy to compare the base price of an item online, it may not be easy to see the total cost up front as additional fees such as shipping are often not be visible until the final step in the checkout process. The problem is especially evident with cross-border purchases, where the cost indicated at the final checkout screen may not include additional fees that must be paid upon delivery such as duties and brokerage. Some services such as the Canadian based Wishabi attempts to include estimates of these additional cost, but nevertheless, the lack of general full cost disclosure remains a concern.
Privacy
Privacy of personal information is a significant issue for some consumers. Different legal jurisdictions have different laws concerning consumer privacy, and different levels of enforcement. Many consumers wish to avoid spam and telemarketing which could result from supplying contact information to an online merchant. In response, many merchants promise not to use consumer information for these purposes, or provide a mechanism to opt-out of such contacts.
Many websites keep track of consumers shopping habits in order to suggest items and other websites to view. Brick-and-mortar stores also collect consumer information. Some ask for address and phone number at checkout, though consumers may refuse to provide it. Many larger stores use the address information encoded on consumers' credit cards (often without their knowledge) to add them to a catalog mailing list. This information is obviously not accessible to the merchant when paying in cash.
Hands-on inspection
Typically, only simple pictures and or descriptions of the item are all a customer can rely on when shopping on online stores. If the customer does not have prior exposure to the item's handling qualities, they will not have a full understanding of the item they are buying. However, Written and Video Reviews are readily available from consumers who have purchased similar items in the past. These can be helpful for prospective customers, but these reviews can be sometimes subjective and based on personal preferences that may not reflect end-user satisfaction once the item has been received.
Because of this, many consumers have begun going to real-world stores to view a product, before purchasing online. To combat the process, Target has requested distributors give them equally low prices, or alternatively, exclusive products available at their store only.
Product suitability
Many successful purely virtual companies deal with digital products, (including information storage, retrieval, and modification), music, movies, office supplies, education, communication, software, photography, and financial transactions. Other successful marketers use Drop shipping or affiliate marketing techniques to facilitate transactions of tangible goods without maintaining real inventory.
Some non-digital products have been more successful than others for online stores. Profitable items often have a high value-to-weight ratio, they may involve embarrassing purchases, they may typically go to people in remote locations, and they may have shut-ins as their typical purchasers. Items which can fit in a standard mailbox—such as music CDs, DVDs and books—are particularly suitable for a virtual marketer.
Products such as spare parts, both for consumer items like washing machines and for industrial equipment like centrifugal pumps, also seem good candidates for selling online. Retailers often need to order spare parts specially, since they typically do not stock them at consumer outlets—in such cases, e-commerce solutions in spares do not compete with retail stores, only with other ordering systems. A factor for success in this niche can consist of providing customers with exact, reliable information about which part number their particular version of a product needs, for example by providing parts lists keyed by serial number.
Products less suitable for e-commerce include products that have a low value-to-weight ratio, products that have a smell, taste, or touch component, products that need trial fittings—most notably clothing—and products where colour integrity appears important. Nonetheless, some web sites have had success delivering groceries and clothing sold through the internet is big business in the U.S.
Aggregation
High-volume websites, such as Yahoo!, Amazon.com and eBay, offer hosting services for online stores to all size retailers. These stores are presented within an integrated navigation framework. Collections of online stores are sometimes known as virtual shopping malls or online marketplaces.
Impact of reviews on consumer behaviour
One of the great benefits of online shopping is the ability to read others' reviews, which could be from experts or simply fellow shoppers on one product and service.
The Nielsen Company conducted a survey in March 2010 and polled more than 27,000 Internet users in 55 markets from the Asia-Pacific, Europe, Middle East, North America and South America to look at questions such as "How do consumers shop online?", "What do they intend to buy?", "How do they use various online shopping web pages?", and the impact of social media and other factors that come into play when consumers are trying to decide how to spend their money on which product or service.
According to that research, reviews on electronics (57%) such as DVD players, cell phones or PlayStations and so on, reviews on cars (45%), and reviews on software (37%) play an important role and have influence on consumers who tend to make purchases and buy online.
In addition to online reviews, peer recommendations on the online shopping pages or social media play a key role for online shoppers while researching future purchases of electronics, cars and travel or concert bookings. On the other hand, according to the same research, 40% of online shoppers indicate that they would not even buy electronics without consulting online reviews first.